wanita penikmat perjalanan, mari berbagi dalam kesederhanaan

Senin, 04 Desember 2017

Alone, No Internet No Gadget in Singapore (Part 1)




Dok.Pribadi
Saya masih inget banget dulu jaman lulus SMP saya disuruh jadi TKW ke Luar Negeri. Kebetulan ada tetangga saya yang kerja di Singapore. Namun saya ga mau. Saya mau keluar negeri jadi turis haha. Maklum hidup jaman old rada susah. Ortu ga bisa nyekolahin saya ke jenjang selanjutnya. Dan usahaku ternyata berhasil Alhamdulilah Ya Alloh atas nikmatMu yang diberikan kepadaku semoga menjadi hamba yang selalu taat kepada-Mu. Amiin 

Tanggal 11 April 2016  kemarin kakiku menjejakkan di Negeri Singapore yang katanya kota kecil dengan kemajuan teknologi yang mencengangkan. Dan niat awal saya jalan kepikiran gimana ya rasanya traveling tanpa gadget dan internet. Layaknya orang-orang jaman old. Kayaknya nikmat gitu kali ya. No selfie no pamer photo. Intinya perjalanan ini akan saya nikmati sendiri. Melihat budaya orang, melihat hiruk pikuk kota modern dan juga nikmat pemandangan yang menyegarkan mata kita.

Berangkat ke pelabuhan Ferry Batam centre jam 5 pagi dianter kakak ipar. Perjalanan kurang lebih 45 menit dari Batam. Dah dig dug juga gimana nanti kalau ditolak imigrasi hiks. Secara paspornya masih perawan euy. Yang penting semua persyaratan sudah dipersiapkan dan juga antisipasi jawaban atas pertanyaan petugas imigrasi yang kadang bikin  ga bisa masuk ke negeri Singa tersebut. Karena kakak saya  yang tinggal di Batam, bilang agak susah kesana karena  dia dulu pernah dibawa ke ruang interograsi mulu haha. Maklum kakak saya jilbab lebar disangka teroris kali padahal urusan kantor lho.

Dok.pribadi
Karena baru pertama kali cek ricek imigrasi saya mending milih  antrian yang paling belakang sambil liatin tuh orang ngapain ajah. Eh ga lama kemudian ada dua orang wanita dibelakang saya dia mau kerja jadi TKW dan nanya ke saya mengenai imigrasi. Duh mba saya juga baru pertama kali nih haha tapi jangan tunjukin tampang orang bego bin bingung pede aja dah. Dan pas giliran saya si petugas imigrasi Singapore bolak balikin paspor saya yang masih perawan boo. Trus nanya mau ngapain. Jawab aja sekenanya mau transit doang. Udah langsung cetak cetok paspor saya distempel Singapore. Sambil menyerahkan paspor saya si petugas nanya lagi. Rombongan ya? Ga alone. Saya buru-buru dah ngeloyor pergi takut ditanya ini itu lagi.

Di pelabuhan Harbourbay Front Singapore saya masuk ke Vivo city nyari MRT sebagai moda transportasi saya selama di Singapore. Saya udah minjem kartu ezlink kawan saya di Jakarta buat di top up biar ngirit eh ternyata kartunya udah expire hiks. Nanya sana sini belilah kartu Singapore tourist pas. Milih yang one day trip seharga 20 dolar. Isi 10 dolar deposit nya 10 dolar nanti dibalikin klo kartu nya dikembalikan ke petugas.

Dan di Singapore ini saya bener-bener dah ga bisa dapetin sinyal wifi. Udah di utak atik sama petugas masih ga mau juga. Disuruh beli kartu SIM sana tapi ukuran slot simcardnya ga ada yg nyambung ama hp saya alias beda banget dah. Kirain semua hp di dunia memiliki slot kartu yang sama ternyata tidak. Saya punya HP 3 biji. Ndilalah ilang satu pas lagi wisata di Jembatan Barelang Batam  padahal HP yang ilang itu baru diisi pulsa 100 ribu. Mana hp satunya nol rupiah trus paket BBM abis pula. Bingung banget nih mau ngapain dulu. Ga ada koneksi internet. Yang terpenting sih pengen ngabarin kakak saya yang di Batam bahwa saya sudah selamat sampai Singapore. Itu aja.

Dok.Pribadi
Agak bingung dan duduk lama di stasiun saya putuskan jalan saja. Toh selama ini pengin juga ngerasain traveling no HP kaya orang jaman old itu seperti apa. Saya menuju ke ruang Informasi dan minta peta wisata Singapore ke petugas. Saya lalu masuk ke Vivo City lagi pengen makan dulu sebelum bertempur. Padahal dibawaain lontong dan gorengan sama kakak saya hiks. Maklum saya liat sekelilingnya kok ga ada orang makan disembarang tempat ya. Apa emang dilarang atau bagaimana ya hehe. Ya wis lontongnya buat nanti saja.

Petualangan di mulai. Bak turis mancanegara dengan nggendong backpack kamera dikalungin trus buka peta lebar-lebar ahay sedaap. Diliatin orang bodo amat dah. Gak kenal juga aku ama mereka hehe. Dan ya Alloh saya baru ingat kalau saya ada janjian ketemu sama temen SMA yang menikah sama orang Singapore. Mana no dia disimpan di HP yang ilang dan ga ada WIFI gimana mau chat inbox via FB yahh. Dan semua catatan initerary yang sudah disiapkan dari rumah ilang juga dah karena kesimpan di HP yg ilang. Malang bener nasibkuhh duuhh. Di negeri orang pulak. Bismillah saja masih ada Alloh yang mau ngebantuku melangkah ke arah mana saja yang Dia kehendaki dah .cihui...


To be Continue.....


Mampang Prapatan , 5 Desember 2017  jam 06.10  wib


Sabtu, 02 Desember 2017

"Wage" Film Sejarah yang Sepi Penonton


sumber : koranmetro.com
Lagu Indonesia Raya berkumandang di saat Sumpah Pemuda.
Ah sudah lama sekali ga ngeblog. Setahun lebih kali yahh. Maklum ada beberapa peristiwa yang membuatku lupa eh bukan lupa sih sengaja pengen melupakan sejenak bersama sang waktu duh. Intinya pengen menyendiri eh lanjut jadi malas-malasan deh jadinya. Ga mod juga sih buat nulis padahal di otak ada banyak sekali memori-memori perjalanan yang pengin segera diceritakan entah ada pembacanya atau tidak minimal nanti saya punya jejak aja di Dunia Maya.

Well minggu lalu saya dengan suami yang hobi banget nonton bingung deh weekend ini mau nonton apa. Karena semua film hampir sudah ditonton kecuali film Indonesia remaja cinta-cintaan yang memang saya dan suami ga begitu suka. Pilihan jatuh ke Wage pas banget momen hari Sumpah Pemuda cui. Kali aja semangatnya nular ke saya. Amiin

sumber: palingbaru.com
Wage kecil bersama sang kakak Ipar Van Eldik yang mengajari musik
Gila ini film bagus yang menambah wawasan saya mengenai biografi pencipta lagu Indonesia Raya. Karena dicatatan sejarah sekolah yang pernah saya tempuh ga disebutin secara detail hanya cuma dicantumin siapa pencipta lagu Indonesia Raya? semua anak-anak pasti njawab, WR Supratman. Nah WR itu singkatan Wage Rudolf. Nama panggilan kecilnya adalah Wage. Berita tentang lahirnya Wage masih simpang siur. Ada yang bilang Wage lahir di Jatinegara-Jakarta, ada pula yang bilang Wage lahir di desa Wonogiri lalu dibawa ibunya ke Jakarta. 

Wage kecil adalah anak yang cerdas. Bapaknya seorang tentara militer di jaman Pemerintah Belanda (Tentara KNIL). Ibunya sering sakit-sakitan. Hingga meninggal dunia. Wage kecil akhirnya diasuh oleh kakak perempuanya yang bersuamikan orang Belanda W.M Van Eldik. Dan dari Van Eldik inilah jiwa musiknya mulai terasah. Dan demi mendapatkan akses di sekolah anak keturunan Belanda maka nama Wage ditambah Rudolf jadi Wage Rudolf  Supratman.

Wage kecil hingga remaja tinggal di Makassar bersama kakak iparnya Van Eldik . Dia bermasin musik yang tergabung dalam grup band "Black and White". Bermain musik di Cafe-cafe  Belanda yang bayaranya mahal.

sumber: Theatersatu.com
Wage ketika ditangkap oleh Belanda
Walau hidup bergelimang harta, Jiwa wage tetep sepi dan disaat pulang bermain musik dicafe-cafe pada malam hari Wage mendengar pekikan sekelompok pemuda yang meneriakan kemerdekaan. Disaat itulah ia tertarik dan ingin bergabung secara diam-diam untuk organisasi pemuda itu. Hampir ia selalu memberikan sebagian gajinya untuk mendanai gerekan pemuda itu. 

Kucing-kucingan dengan pemerintah Belanda akhirnya organisasi pemuda itu diketahui oleh Belanda karena mereka takut terjadi pemberontakan Kemerdekaan bagi bangsa Indonesia maka dibubarkan. Kakak iparnya Van Eldik juga di beri peringatan agar hati-hati karena Wage ikut dalam pergerakan pemuda itu. Akhirnya Wage remaja merantau ke Jawa dan menjadi seorang wartawan.

Kehidupan di Jawa berbanding terbalik dengan Makassar. Ia mulai hidup dari nol. Gaji kecil sebagai wartawan kadang kurang dan belum lagi untuk mendanai pergerakan pemuda yang ada di Tanah Jawa. Tepatnya Jakarta. Bahkan sempat menjual barang-barang yang ada di rumahnya kecuali Biola.

Wage juga ikut sebagai anggota pemuda yang akan melahirkan Sumpah Pemuda nantinya. Dan wage di tunjuk untuk menciptakan lagu Kebangsaan yang nantinya akan digunakan sebagai penutup Konggres Pemuda. Saya baru tahu Lagu Indonesia Raya ternyata merupakan lagu pertama dan terakhir yang di ciptakan oleh WR Supratman.

Ada kalanya lagu Indonesia Raya itu dinyanyikan tanpa teks hanya melalui instrumen gesekan Biola saja. Karena memang di larang oleh Pemerintah Belanda saat itu. Sejak lagu Indonesia Raya pertama kali dikumandangakan banyak rakyat pribumi menyanyikannya hingga menimbulkan berbagai pergolakan dan menimbulkan semangat juang untuk Indonesia Merdeka. Belanda berkali-kali ingin menangkap Wage karena lagunya dab ikut dalam organisasi pemuda itu dimana tercium pergerakan Kemerdekaan bagi Bangsa Indonesia.

Selain menciptakan lagu , Wage juga sempat membuat novel dengan nama samaran namun lagi-lagi ketahuan oleh Belanda dan semua semua hasil karya Wage dilarang keras beredar di pasaran. Dengan susah payah akhirnya Pemerintah Belanda menangkap Wage. Sejak ditangkap banyak protes keras yang dilakukan oleh pemuda-pemudi Indonesia agar Wage di bebaskan namun hasilnya nihil. Hingga Wage sakit dalam penjara. Walaupun badan Wage di penjara namun jiwa Wage bebas.

Wage akhirnya meninggal dunia setelah beberapa minggu di bebaskan dari penjara. Tepatnya tahun 1938 sebelum Indonesia Merdeka. Namun ia sangat yakin bahwa Indonesia pasti Merdeka.

Di akhir film ini saya sempat mewek karena saya benar-benar baru tahu bahwa Pencipta Lagu Indonesia Raya ini wafat sebelum Indonesia Merdeka. Saya kira ia sempat bangga dalam beberapa tahun setelah Kemerdekaan Indonesia  karena lagunya kini jadi lagu Kebangsaan yang dikumandakan dimana-mana bahkan di dunia ketika ada kejuaraan dunia. Dan lagi kisah hidupnya yang sendirian dan belum menikah. Kisah cintanya pilu, lalu dipenjara dan sakit. Sungguh haru akan pengorbannmu Wage. Sampai kapanpun lagu Indonesia Raya akan berkumandang hingga hari akhir zaman.

Suasana di lokasi syuting film Wage di kawasan Kota lama semarang
Sumber: Arinamabruroh.com

Untuk setting film ini sangat bagus. Indonesia kaya akan peninggalan bangunan bersejarah yang banyak digunakan untuk syuting film ini. Keren dah pokoknya. Banyak bule-bulenya. Keren dah pokoknya.

Dan seminggu setelah nonton film ini, saya ke bioskop untuk menonton film lain. Dan sedih banget ternyata film Wage sudah tidak tayang lagi di Bioskop tersebut. Mungkin ini sudah menjadi jalannya. Jalan sunyi bagi seorang Wage yang sesunyi hidupnya. Sepi penonton. Biarlah karya lagunya yang terus berkumndang memenuhu langit dan bumi Indonesia.


Mampang Prapatan, 5 Desember 2017  11.17 wib