wanita penikmat perjalanan, mari berbagi dalam kesederhanaan

Sabtu, 23 Agustus 2014

42


By on 09.30




13918438831146709950

sumber. wikipedia.org




Film 42 memang sudah lama tersimpan dalam hardisk ekternal saya. Sengaja tidak nonton karena saya pikir bukan film bagus jadi saya abaikan saja. Saya lebih baik pilih judul film yang lainnya untuk ditonton. Nah tadi malam, berhubung semua film barat di hardisk saya hampir sudah ditonton, tinggal film indo, asia dan kartun yang belum saya sentuh. Memang saya lebih suka nonton barat dulu. Selain kualitasnya bagus juga ceritanya sangat bervariasi ga lebay dan cengeng seperti fim-film Indonesia.

Sambil tiduran saya iseng buka film 42 ini. Kalau tidak bagus pasti saya tertidur dikala nonton ini. Dari pertengahan hingga akhir film ini mata saya netes mulu haha ketahuan cengeng nih J. Film ini bercerita tetang rasis, terutama rasis di bidang olahraga bisbol. Ya pemisahan ras kulit hitam dan kulit putih masih amat kental di negeri Amerika sana setelah perang dunia II.

Di tahun 1945, Branch Rickey (Harrison Ford) sang Bos Eksekutif tim bisbol Brooklyn Dodgers yang ingin membuat perubahan agar timnya meraih banyak kemenangan dan memiliki banyak keuntungan dari bisnisnya karena seluruh hidupnya dicurahkan ke bisbol. Dari menjadi pemain, pelatih hingga sekarang menjadi eksekutif. Ia ingin melakukan sesuatu yang dulu tidak bisa dilakukan, yaitu ketika menjadi pelatih ada seorang pemain bisbol yang memiliki talenta luar biasa. Tapi terkendala rasis, pemain itu adalah seorang Negro. Pihak managemen menolaknya. Ia juga tak bisa menolongnya.

Kini ia bisa melakukan apapun walau banyak rintanganya. Ia merekrut seorang Negro, Jacky Robbinson (Chadwick Boseman). Punya talenta, masih muda 26 tahun. Gebrakan perubahan Rickey oleh pihak managemen dianggap gila. Karena jika dilakukan maka timnya akan dikucilkan dan tidak boleh main dalam organisasi liga bisbol. Tapi Ricky punya alasan karena diolahraga bisbol tak ada aturan/larangan mengenai agama, umur dan warna kulit. Hanya budaya pemisahan rasis masih kental dijalankan di Amerika sana.

Rasis dalam penggunaan toilet khusus white only, hotel berbintang, restoran, pesawat terbang hanya khusus diperuntukan bagi warga kulit putih. Rickey juga menasehati Robbinson akan banyak sekali halangan dan rintangan bahkan cacian kepada sang Negro dan juga Timnya. Tapi asalkan berani dan mampu menunjukan kemampuanya maka ini akan jadi sejarah perubahan. Dari tahun ke tahun musim liga bisbol yang ikut 400 pemain semuanya kulit putih. Tapi sejak tahun 1945 komposisinya berubah menjadi 399 karena masuklah sang negro. Sang agen perubahan.

Akhirnya setelah tanda tangan kontrak Robbinson mendapat seragam dan nomor punggung no 42. Debut Robbinson di tim bisbol Brooklyn Dodgers dengan gaji $600 selama masa training dan jika sudah tanda tangan kontrak maka gajinya dinaikan menjadi $3,500. Ia juga memboyong istrinya ikut menemaninya ke Brooklyn. Timnya selalu meraih kemenangan sukses. Semua penonton mencaci maki Robbinson dan disuruhnya keluar. Ada saja kelakuan para pemain lawan yang berusaha mencederai dari melempar bola bisbol ke kepalanya, menjagal kakinya ketika berlari hingga jatuh. Belum lagi cacian yang semuanya tidak didukung oleh timnya sendiri. Bahkan awal masuk hampir semua pemain dan pelatih Brooklyn Dodgers menandatangani surat pernyataan tidak setuju dengan masuknya sang Negro. Namun semua itu bisa dilakukan oleh Bracng Rikey yang akan mengancam memecat pemain yang tidak setuju dengan gebrakan perubahannya.

Ketika ada menagernya mendapatkan sepucuk surat dari para penggemar Brooklyn Dodgers, maka Ricky juga menunjukan 3 bunder berisi ribuan surat yang intinya tidak suka dengan sang negro Robbinson main bersama timnya. Dan ending cerita Tim Brooklyn menjadi juara Dunia berkat Robbinson. Ia menjadi bintang yang selalu banyak yang meminta tandatangan. Warga kulit putih juga bisa menerima keberadaaanya. Sejak perubahan itu semua berubah. Dari tahun ke tahun ke tahun semakin banyak orang Negro yang bermain bisbol. Pemisahan rasis berangsur-angsur menghilang. Semua sejajar.

Dan setiap bulan April semua pemain bisbol merayakan hari sejarah itu dengan bermain bisbol tapi semua pemain memakai nomor punggung 42. Dan Nomor 42 pulalah yang dipensiunkan dan tidak dipakai oleh siapapun dalam sejarah bisbol Amerika.

Film ini merupakan kisah nyata. Layak ditonton bersama keluarga anda. Rasis tidak berlaku lagi..sekian ratus tahun juga Amerika baru punya Presiden Obama. Malah terpilih untuk kedua kali. Jadi Tuhan memang maha Pencipta Yang Adil. Semua sama dihadapan Tuhan.
,

Selamat Weekend
Cempaka Putih, 08 Febuari 2014 14.40 WIB

0 komentar:

Posting Komentar